Pilkades di Kec.Tanjungsiang 2026: Pesta Demokrasi atau Pasar Calon ?



Subang,-Cybernasa.com
Pemilihan kepala desa (pilkades) 2026 di depan mata tinggal menghitung hari,delapan ( 8 ) dari sepuluh desa 10 desa di Kecamatan Tanjung Siang yang akan menggelar pesta demokrasi pemilihan kepala desa serentak di kabupaten Subang, siap gelar Pilkades serentak.
Kedelapan desa tersebut yang akan gelar pilkades,1.Tanjungsiang,
2.Buniara,3.Kawungluwuk, 
4.Cimeuhmal,5.Cikawing, 6.Sirap,
7.Cibuluh,8.Rancamanggung.

Beragam opini publik menyikapi Pilkades terutama sosok para balon (bakak calon )kepala desa yang akan ikut kontes dalam pilkades tahun 2026 . Beragam opini publik merasa bingung milihna da nu maruncul teh bakal calona nu ges arapal sepak terjangna ( karakterna ) red Sunda ,  terkadang publik tidak melihat balondes yang memiliki visi misi atau yang memiliki program, tapi yang di cari calon yang memiliki kantongnya tebal.. ? 
Sulit. Sangat sulit. 

Bukan karena warganya bodoh. Justru karena warganya sudah terlalu pintar. "Mun cek Sunda mah, pilih pa mening mening  artinya  kusaking sulit memilih sosok calon pamimpin  ( red Sunda  ) karena   orang yang  akan kita pilih sosoknya jauh dari harapan rakyat ( karena tidak memiliki  program dan gagasan. ) , buat apa dipilih  ? Dipilih karena saudara. ?  Dipilih karena calonya ngasih uang.?  Kadang dipilih bilangnya kasihan .. ?  Lantas siapa yang di salahkan..? 

Krisis Calon,Bukan Krisis Pemimpin
Pengabdian jadi barang langka. Yang maju bukan yang paling ngerti desa, tapi yang paling berani  "main. Yang punya modal. Yang punya backing. Idealisme  ? 
Kalah telak sama spanduk  dan amplop. Akibatnya: warga dipaksa milih dari "yang kurang buruk". Bukan dari "yang terbaik". Demokrasi jadi diskon... . ? 

Money Politics : Rahasia Umum yang Dipelihara.. ? 
UU sudah jelas. Ada sanksi diskualifikasi. Tapi faktanya  ?  Kosong. Belum pernah ada calon di daerah lain   yang dicoret karena bagi-bagi duit. Kenapa ? Karena "bukti" susah. Karena mata semua merem. Karena panitia sendiri...diduga  ikut main.. . ? 

Ini paling bahaya.Oknum Panitia Pilkades harusnya wasit. Faktanya di lapangan: di duga wasit jadi pemain,  " ikut ngusung jagoan..? 
Matak lieur kanu tuur jangar kanu bincurang ( red  Sunda) hampir setiap pemilihan selalu ada oknum wasit jadi pemain.. ? 
Netralitas mati sebelum hari H. Kalau yang jaga gawang sudah pegang bola lawan, warga mau ngadu ke siapa?

Ketegasan  sama dengan Dongeng  
Aturannya ada, giginya ompong. Panitia tidak tegas. Bawaslu Desa tidak berdaya. Warga lapor capek. Calon ketawa. Ujungnya: diskualifikasi cuma jadi tulisan di UU, bukan eksekusi di lapangan. 

Hasilnya  ? 2026 nanti kita tidak pilih kepala desa. Kita lelang jabatan. Yang menang bukan suara terbanyak, tapi modal terbanyak.. ? 

Lalu warga harus gimana   ?
Stop romantisme "asal orang kita" Kenal karakter = modal utama. Kalau dua  ( 2 ) nama itu sudah kebaca kelakuannya, jangan kasih panggung lagi. 
Rekam, Laporkan, Viralkan*. Money politi cs mati kalau kena cahaya. WA, foto, video amplop = senjata warga. Kirim ke Panwas + Bawaslu Kabupaten. Jangan cuma jadi gosip.

Desak Panitia Mundur Kalau Tidak Netral.Panitia yang ikut mengusung  cacat hukum. Warga berhak minta diganti. UU Desa kasih ruang itu.

Pilkades bukan pesta 5 tahunan. Ini soal nasib desa 6 tahun ke depan. Jalan rusak, BLT salah sasaran, dana desa bocor... semua berawal dari bilik suara yang isinya amplop, bukan akal sehat.

Kecamatan Tanjungsiang butuh pemimpin, bukan pedagang. Kalau 2026 kita masih pilih "pa mening mening karena nggak ada pilihan lain, berarti kita sendiri yang menggali kubu.

2026 : Pilih yang ngabdi, bukan yang ngutang budi
 
KATA Ir SOEKARNO 
"Kita bukan bodoh tapi di bodohkan, 
Kita bukan miskin, tapi di miskinkan 
Oleh sebuah sistem ! 

"Sistim yang ada seringkali dibuat untuk mempertahankan kekuasaan & kekayaan, bukan untuk memajukan keadilan & kesetaraan  "( N k) 

OKY Haidar Syah
Previous Post Next Post

Contact Form