Loyalitas Kader dan Politik Pelayanan , Sikap Haji Ayi Mutakin di Pilkades Cimanglid Tidak tertarik jadi pemimpin ?



Subang Cyber Nasa:
Di tengah hiruk pikuk bursa Pilkades Serentak 6 Desember 2026, muncul sikap yang tidak biasa,H.Ayi Mutakin
sosok yang akrab disapa "Haji Ayi", secara terbuka menyatakan tidak tertarik maju sebagai calon Kepala Desa Cimanglid, Kecamatan Kasomalang,Jabupaten Subang padahal desakan dari warga sangat besar.

Keputusan itu menarik untuk dibedah secara politik dan sosial.

Pertama, Politik Bukan Sekadar Jabatan
Haji Ayi memilih jalur yang berbeda: "Saya lebih fokus mengawal kebijakan Bupati Subang Kang Rey." Kalimat sederhana itu menyimpan makna besar. Ia memisahkan antara ambisi pribadi dengan tanggung jawab kolektif. 


Bagi Haji Ayi, menjadi pemimpin tidak harus lewat kursi Kades. Mengawal kebijakan publik dari luar struktur pun adalah bentuk kepemimpinan.

Ini adalah koreksi terhadap praktik politik desa yang sering terjebak pada perebutan kursi. Ia menunjukkan bahwa loyalitas pada program "Subang Ngabret" bisa dilakukan dari posisi masyarakat sipil dan kader partai.

 Loyalitas Kader Golkar yang Konsisten  
 Sebagai kader Golkar dan pengurus Daerah, Haji Ayi menegaskan sikapnya harus sejalan dengan arahan Bunda Elita selaku Ketua Golkar Kab. Subang. Pernyataan "secara moral harus loyal terhadap kebijakan yang substantif" adalah penegasan etika berpartai. 



Di era politik transaksional, sikap seperti ini langka. Ia menempatkan disiplin partai di atas ego pribadi. Dengan mengerahkan pengurus PD dan kader Golkar Cimanglid untuk mendukung kebijakan Bupati dan Ketua Golkar, ia justru memperkuat mesin politik dari akar rumput tanpa harus bertarung di Pilkades.

 Figur Humanis yang Menolak Euforia Kekuasaan  
Haji Ayi dikenal sebagai petani,dan tour leader  Samira Travel, dan sosok yang humanis serta terbuka. Justru karena kedekatannya dengan warga itulah banyak yang mendorongnya maju piljades " Penolakan beliau bukan karena tidak mampu, tetapi karena punya prioritas lain.

Ini penting. Pemimpin yang baik tahu kapan harus maju, dan tahu kapan harus mundur demi kepentingan yang lebih besar. Dengan tidak maju, ia menghindari potensi perpecahan di desa dan memilih menjadi "pengawal kebijakan" yang bisa merangkul semua calon.


 Keteladanan Baru di Politik Desa 
Sikap H. Ayi Mutakin adalah contoh keteladanan baru. Bahwa mengabdi tidak harus jadi Kepala Desa. Bahwa menjadi kader partai harus loyal pada garis kebijakan. Bahwa "Subang Ngabret" butuh orang-orang yang mau bekerja di belakang layar.

Keputusan untuk tidak maju justru bisa jadi langkah politik paling strategis. Ia menjaga marwah, menjaga kohesi warga Cimanglid, dan tetap relevan mengawal pembangunan.

Semoga sikap ini menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh lain: bahwa jabatan itu amanah, bukan tujuan. Dan pelayanan kepada masyarakat bisa dilakukan dari mana saja.
OKY HAIDAR SYAH ( WK PEMRED)
Previous Post Next Post

Contact Form