Subang,- Cybernasa.com
Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, Ketua PGRI Cabang Tanjungsiang menegaskan larangan keras terhadap kegiatan "samen" atau perpisahan siswa kelas 6 SD yang dikemas dengan hiburan berlebihan dan piknik ke luar kota.
Larangan ini sejalan dengan himbauan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), yang beberapa kali menolak acara perpisahan sekolah yang memberatkan orang tua siswa. "Jangan sampai demi gengsi sesaat, orang tua harus berutang atau menjual barang," tegas KDM dalam berbagai kesempatan.
EKONOMI RAKYAT SEDANG TIDAK BAIK BAIK SAJA
Fakta di lapangan menunjukkan, tidak semua wali murid mampu. Banyak orang tua siswa di Tanjungsiang yang bekerja sebagai buruh tani, pedagang kecil, dan pekerja serabutan. Dari pada untuk acara perpisahan lebih baik di gunakan untuk beli pakean atau seragam yang mau masuk ke SMP dan mau masuk ke SMA
Ketua PGRI Tanjungsiang Berinisial AR menghimbau para guru dan kepala sekolah: untuk menggunakan kalimat "ini kemauan siswa" Dan karena keinginan wali murid " Yang pada ahirnya pihak guru dan kepsek yang di salahkan.
" Kami tidak mau dengar seperti itu Melarang tidak, menyuruhpun apalagi untuk Samen yang berlebihan. Pihak disdik lepas, tinggal kembali pada kita di sekolah masing masing " krtisnya
Siswa belum dewasa secara finansial. Mereka tidak tahu kondisi dompet orang tuanya. Tugas guru adalah mendidik, bukan menuruti semua keinginan siswanya
Sekolah adalah lembaga pendidikan, bukan EO. Fokus utama sekolah adalah memastikan anak lulus dengan nilai baik dan akhlak mulia. Perpisahan cukup dengan doa bersama, sungkeman, dan pemberian kenang-kenangan sederhana di sekolah.
SOLUSI PERPISAHAN SEDERHANA, BERMAKNA DAN TANPA PUNGUTAN..!
Persatuan Guru Republik Indonesia ( PGRI ) kecamatan Tanjungsiang menginginkan alternatif kegiatan akhir tahun ajaran yang lebih mendidik:
Gelar karya siswa: Pameran hasil prakarya, pentas seni di aula sekolah. Gratis dan melatih kepercayaan diri.
Bakti sosial: Kelas 6/kelas 9 gotong royong bersihkan lingkungan sekolah atau bantu warga kurang mampu. Ini jadi kenangan yang jauh lebih mulia dari piknik ke pantai.
Tasyakur binni'mah : Cukup dengan doa bersama di masjid sekolah dan makan liwet bareng bawa dari rumah. Hemat, akrab, dan religius.
Tokoh pemerhati pendidikan, yang juga mantan anggota DPRD subang di komisi pendidikan berinisial H Aw mengingatkan
Kalau Eporia itu seharusnya harus, tapi dilakukan dg posisi mendidik dan tidak berlebihan dan tidak melanggar ketentuan dari surat edaran gubernur Jabar
Sesuai arahan Gubernur KDM dan sikap tegas PGRI Tanjungsiang, mari kita kembalikan esensi perpisahan: momen syukur atas kelulusan, bukan ajang pamer kekayaan Empati kepada wali murid adalah bagian dari profesionalisme guru
MARI JAGA MARWAH GURU
Guru adalah teladan. Saat guru memaksakan acara mewah, yang rusak bukan cuma ekonomi orang tua, tapi juga kepercayaan publik pada dunia pendidikan. Jangan sampai muncul stigma "sekolah jadi ladang bisnis"... . ?
KATA KI HADJAR DEWANTARA
"Setiap orang adalah guru , dan setiap rumah adalah sekolah
"DI DEPAN MEMBERI CONTOH , DITENGAH MEMBANGUN SEMANGAT, DI BELAKANG MEMBERI DORONGAN"
Kita bisa belajar nilai,sikap dan pengetahuan dari siapa saja, dan pendidikan sejati tidak hanya terjadi di sekolah formal , tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari terutama di lingkungan keluarga
OKI HAIDAR SYAH
Tags
umum
