Subang,Cybernasa.com
Di banyak desa, wajah pertanian masih sama: petani turun ke sawah pagi-pagi, mengandalkan pengalaman turun-temurun untuk mengolah tanah, menanam, dan merawat tanaman.dan pemberantasan hama penyakit ( Happen ) Yang berubah cuma satu hal yaitu harga pupuk, dan pestisida naik, hama makin kebal, dan iklim ,suhu makin nggak bisa ditebak.
Masalahnya, pengetahuan petani sering berhenti di situ. Nggak ada pembaruan dari pihak yang seharusnya jadi jembatan ilmu: penyuluh pertanian.
Ketika Penyuluh Jarang Turun ke Lapangan. .
Secara struktur, setiap kecamatan dan desa seharusnya punya penyuluh yang bertugas mendampingi petani. Tugasnya jelas: kasih pelatihan, perbaiki cara pengolahan tanah, ajarkan dosis pupuk dan dosis pestisida yang tepat, sampai penanganan hama penyakit untuk ketela pohon ,ubijalar, jahe kencur,mentimun ,cabe jagung dan tanaman pangan padi dan hortikultura.
Tapi di lapangan, banyak petani bilang penyuluh cuma muncul saat ada program atau bagi-bagi bantuan. Setelah itu terkesan hilang.....?
Akibatnya, ilmu pertanian yang diterima petani cuma hasil otodidak, coba-coba, atau warisan dari tetangga sawah.atau tanaman holtikultura ( buah buahan, bunga bungaan dan sayur sayuran. . )
Tanpa pendampingan teknis, kesalahan kecil jadi masalah besar. Tanah kelebihan pupuk jadi ruksaknya pisik lapisan tanah atas ,memberikan dosis pestisida salah malah bikin hama kebal, dan pola tanam nggak sesuai musim, iklim, bibit / benih, yang tidak bersertipikat , jarak tanam ahirnya bikin gagal panen.
Dampaknya Langsung ke Hasil Panen
Ketidaktahuan teknis ini nggak cuma soal rugi waktu.
Ada 3 dampak nyata:
Kualitas turun:Gabah , sayur cacat, buah kecil. Harga jual anjlok karena nggak masuk standar pasar.
Kuantitas anjlok: Hasil panen per hektar jauh di bawah potensi. Padahal lahan dan air tersedia.
Biaya produksi bengkak: Petani pakai pupuk dan obat berlebihan karena nggak tahu dosis yang tepat. Modal besar, untung kecil.
Padahal, teknologi dan metode pertanian terbaru sudah ada. Tinggal disalurkan. Tapi kalau penyuluh nggak hadir, teknologi itu cuma jadi dokumen di kantor Dinas Pertanian.
Penyuluh Bukan Sekadar Petugas Administrasi
Peran penyuluh itu strategis. Mereka harusnya jadi pelatih, konsultan, sekaligus jembatan antara riset pertanian dan petani di sawah. Bukan cuma pendata atau pembagi bantuan.
Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dibenahi:
Evaluasi kinerja penyuluh berbasis lapangan: Jangan cuma lihat laporan, tapi cek berapa kali turun ke kelompok tani, apa materi yang disampaikan, dan apa perubahan di lapangan
.
Penguatan kelompok tani Jadikan kelompok tani sebagai wadah belajar rutin, bukan cuma penerima program.
Akses informasi digital: Pakai grup WhatsApp, radio desa, dan video singkat buat menyebarkan teknik pertanian praktis. Penyuluh nggak bisa hadir fisik tiap hari, tapi ilmu bisa dikirim setiap minggu.
Petani Kuat Kalau Ilmunya Kuat
Petani nggak akan sukses dan berhasil menjadi petani demonstator kalau para petani dibiarkan belajar sendiri di tengah perubahan iklim dan serangan hama yang makin kompleks.
Penyuluh pertanian harus kembali ke fungsinya: hadir di sawah, dan hadir ke para petani,singkong ,kencur jahe jagung mentinun dll ,bukan cuma di kertas. Karena sehebat apapun program dari dinas, kalau nggak sampai ke tangan petani dalam bentuk ilmu yang bisa dipraktikkan, hasilnya tetap nihil.
Yang Sering Dilupakan: Penyuluh Bukan Pembagi Bantuan
Tugas utama penyuluh bukan bagi-bagi pupuk atau benih. Itu tugasnya di luar fungsi inti. Fokusnya harus ke perubahan perilaku dan pengetahuan petani. Kalau petani sudah paham, mereka bisa jalan sendiri tanpa terus-terusan bergantung bantuan.
Penyuluh pertanian itu guru, konsultan, dan fasilitator petani. Kalau penyuluh aktif, biasanya produktivitas dan pendapatan petani naik 20-40% dalam 1-2 musim tanam.
Oky Haidarsyah ( Penulis )
Tags
umum


