PROYEK APBD Pagar Lapang Sepak Bola Nasibnya Seumur Jagung,"RAKYAT SUBANG DIKORBANKAN" PROYEK ASAL-ASALAN .. ?


Subang,- Cybernasa.com
Uang rakyat Subang kembali jadi tumbal. Tembok pagar lapangan sepak bola Desa Tenjolaya, Kecamatan Kasomalang, yang dibiayai APBD Kab. Subang, ambruk sebelum sempat jadi kebanggaan. Baru dibangun Agustus Th 2025 sekarang sudah miring, rontok, seumur jagung.

Ironis. Pagar yang harusnya melindungi, malah jadi ancaman nyawa. Anak-anak yang mau main bola harus menjauh karena takut tertimpa beton rapuh. Ini lapangan sepak bola atau jebakan maut?


Sdr Anang yang akrab di panggil Haji Bupati, tokoh masyarakat Kp. Panembong sekaligus pengusaha, sampai turun tangan sendiri. Memegang puing reruntuhan, beliau mengecam keras: “Ini tidak pake semen!” Ucapan singkat, tapi menampar. Kalau seorang tokoh masyarakat saja muak melihat kualitas proyek APBD, berarti bobroknya sudah di level darurat.



Pertanyaannya: ke mana pengawas proyek? Ke mana dinas terkait? Anggaran APBD itu bukan uang kaget dari langit. Itu keringat petani, pedagang pasar, buruh pabrik Subang yang dipotong lewat pajak. Lalu hasilnya? Tembok yang roboh ditiup angin

Kades Desa tenjolaya tidak akan diam
Kades Desa tenjolaya Asep Sholahudin, saat dikonfirmas lewat Telpn,pihaknya akan pasang baligo besok sekaligus himbauan kepada warga atau siapapun ,kami utamakan keselamatan, tegasnya.


"Kami pun akan bertindak tegas bukan hanya pada pagar lapang sepak bola saja yang ambruk,tapi di blok Cidana Rw 1 Kp panembongpun sama nasibnya ambruk dan Tembok penyangga tanah ( TPT) di Kp. Cigore Rw 05 nasibnya sama ambruk,sama di kerjakanya pada bulan Agustus tahun 2025,"kritis kades. 

Maaf,Pak. Baligo tidak bisa menahan beton. Yang dibutuhkan rakyat bukan spanduk peringatan, tapi pertanggungjawaban. Siapa kontraktornya? Siapa konsultan pengawasnya? Siapa pejabat pembuat komitmen yang tanda tangan berita acara? 
APBD itu ada auditnya. Ada spesifikasi teknis. Kalau tembok bisa miring dalam 2 bulan, berarti ada yang main mata: entah kurangi semen, kurangi besi,atau kurangi malu.

“Seumur jagung” sudah terlalu sopan. Ini lebih tepat disebut “proyek seumur kecoa”: lahir, cepat mati, ninggalin bau busuk.

Coran Di Kepal Sama Tangan Juga Hancur

MASARAKAT PANEMBONG BERSUARA, kok lolos saat di Provisional Hand Iver (PHO ) ?
Jangan - jangan masuk angin pengawas nya? 

Terlalu buruk. amruknya pagar lapang gimana kalau saat waktu latihan anak anak SSB,BRC saat ngambil bola tiba tiba amrbuk temboknya siapa yang bertanggung jawab ? kata Gugun Gumilar.

Wawan pun menambahkan  walaupun bukan proyek desa BPD harusnya  ikut mengawasi pengerjaan peroyek tersebut, apakah sesuai setandar atau tidak..?? 

"Harus di audit... Biar jdi perhatian tuk kedepannya..".kata  Ibrohim Aji 
Ketua Rt 06.



Jajang alias Edwin alias Partaloganda mengatakan ,Nya nu jelas namah kudu Aya pertanggung jawaban pihak pemborong na weh ( red Sunda) 
Rakyat berhak tahu 1 sak semen harganya berapa di atas kertas, dan berapa yang benar-benar dipakai.
Blacklist kontraktor dan konsultan pengawas. Kalau terbukti curang, jangan kasih napas proyek APBD lagi di Subang. Biar kapok.

Proses hukum 
Ini bukan sekadar mal-administrasi. Ini dugaan korupsi dan membahayakan nyawa. APH aparat penegak hukum jangan tidur.

Bongkar dan bangun ulang pakai standar SNI, bukan standar “asal jadi”. Lapangan bola itu ruang publik. Jangan sampai anak  Tenjolaya mati konyol ketimpa tembok APBD..? 

H.Bupati sapaan Sdr.Anang,sudah bersuara.Sekarang giliran Inspektorat, Kejari, dan Polres Subang buktikan taringnya. Kalau tembok seumur jagung ini dibiarkan tanpa sanksi, besok-besok jembatan, sekolah, puskesmas APBD juga nasibnya sama: roboh, lalu rakyat disuruh “menjauh saja”.

Subang tidak butuh proyek mercusuar. Subang butuh pejabat yang punya malu. Karena tembok boleh roboh, tapi kepercayaan rakyat kalau sudah roboh, tidak bisa dibangun cuma pakai semen dan baligo.

 Oki Haidarsyah ( Penulis )




Previous Post Next Post

Contact Form