LSM NUANSA KAB.SUBANG BERSUARA : DIDUGA MBG TANPA IPAL DAN MINIM STERIL, TERKESAN DINAS TERKAIT TUTUP MATA ATAU TUTUP TELINGA ?



Subang -Makan Bergizi Gratis. Program mulia.Niatnya untuk anak-anak bangsa.Tapi di lapangan, apa yang kita lihat ?

Terkesan Di hampir setiap titik dapur MBG di wilayah Subang, kami dari LSM NUANSA ( Nurani Anak Bangsa ) Kabupaten Subang menemukan pemandangan yang sama: tidak ada Instalasi Pengolahan Air Limbah
( IPAL)  Limbah cair dari pencucian peralatan, sisa makanan, dan air bekas masak dibuang begitu saja. Mengalir ke selokan, meresap ke tanah, mencemari lingkungan sekitar.

Pertanyaannya: kemana standar kesehatan dan kelayakan lingkungan yang katanya wajib dipenuhi  ? 

Yang lebih miris, kondisi dapur juga jauh dari kata steril. Peralatan bertumpuk, ventilasi minim, pekerja tanpa APD lengkap. Ini dapur untuk makanan anak sekolah, bukan warung pinggir jalan. Jika hari ini anak-anak kita makan dari tempat seperti ini, maka kita sedang menanam bom waktu: keracunan massal, diare, bahkan penyakit menular.

Lalu dimana Dinas terkait ? Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, Satgas MBG.  Terkesan : Hening,
dan terkesan tutup mata dan tutup telinga... ? 

Ada apa  ?  
Apakah karena ini program pusat sehingga daerah takut mengkritik ?  
Apakah karena target kuantitas lebih penting dari kualitas dan keselamatan ?  
Atau jangan-jangan ada pembiaran karena ada kepentingan lain di balik proyek besar ini  ?

LSM NUANSA  Sdr Mamay Kusmayadi tidak anti MBG. Kami dukung penuh. Tapi MBG yang sehat, bersih, dan layak. Bukan MBG yang mengorbankan kesehatan anak demi mengejar target.? 

Kami menuntut 3 hal hari ini juga:
1.Audit menyeluruh seluruh titik dapur MBG di Subang. Wajib ada IPAL dan Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi dari Dinkes.
2. Sanksi tegas bagi pengelola dapur yang melanggar standar. Jangan ada tebang pilih.
3. Transparansi publik. Umumkan hasil audit dan titik dapur yang tidak layak. Masyarakat berhak tahu apa yang dimakan anaknya.

Jangan sampai niat baik "Makan Bergizi Gratis" berubah menjadi "Makan Berisiko Gratis"..? 

Jika Dinas masih bungkam, maka kami akan turun ke jalan. Karena diam terhadap pembusukan sistem adalah pengkhianatan terhadap anak bangsa.

Kami memahami bahwa program ini memiliki target besar dan waktu yang mepet. Namun, mengejar kuantitas tanpa memperhatikan kualitas dan keselamatan justru akan kontraproduktif terhadap tujuan utama: mencerdaskan dan menyehatkan anak bangsa.

Oleh karena itu, kami memohon dengan hormat kepada Dinas terkait untuk:
1.  Segera melakukan pembinaan dan audit kelayakan terhadap seluruh dapur MBG.
2.  Memfasilitasi pembangunan IPAL sederhana dan pelatihan hygiene bagi pengelola.
3.  Membuka ruang komunikasi dan pengawasan publik agar program ini berjalan transparan.

Lembaga Swadaya masayarakat
( LSM)  Nurani Anak bangsa
( NUANSA) berharap sekaligus mengkrtisi 
Kami meyakini Bapak/Ibu memiliki komitmen yang sama: MBG harus berhasil, sehat, dan berkelanjutan. Kami dari LSM NUANSA siap menjadi mitra kritis yang membangun untuk mengawal program ini "

Lebih lanjut Sekretaris LSM Nuansa Sdr Mamay kusmayadi Sebagian besar SPPG masih menerapkan sistem pengelolaan limbah yang bersifat konvensional, yang belum memenuhi standar kesehatan dan kelestarian lingkungan yang layak. Akibatnya, limbah yang dihasilkan masih mengandung unsur berbahaya, berpotensi menurunkan kualitas lingkungan sekitar, serta menimbulkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat dan petugas yang terlibat.

Karakteristik Limbah Domestik SPPG
Limbah dari kegiatan penyediaan makanan bergizi gratis tergolong sebagai limbah domestik khusus yang berasal dari kegiatan pengolahan makanan skala menengah hingga besar, dengan ciri utama:
 
Limbah padat: Sisa bahan makanan, kulit buah/sayuran, tulang, kemasan sekali pakai, serta bahan pembantu memasak. Sebagian besar bersifat mudah membusuk, berpotensi menjadi sarang hama dan sumber penyakit jika tidak ditangani dengan benar.

Limbah cair: Air bekas pencucian bahan baku, air pembersihan peralatan dan ruangan, serta sisa masakan yang terbuang. Mengandung kadar bahan organik, minyak, lemak, deterjen, dan zat padat tersuspensi yang cukup tinggi. Jika langsung dibuang tanpa pengolahan, akan mencemari sumber air tanah maupun permukaan.
 
Kelemahan Pengolahan Konvensional yang Diterapkan
 
Metode konvensional yang umum digunakan saat ini meliputi pembuangan langsung ke saluran umum dan atau berupa tangki IPAL sederhana, dengan kekurangan mendasar:
 
Tidak ada tahap pemisahan dan pemurnian limbah yang memadai, sehingga zat pencemar tetap terkandung dalam buangan akhir.
Belum memenuhi persyaratan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah, serta peraturan teknis terkait baku mutu air limbah domestik.
Kurangnya fasilitas pengolahan terstandar, seperti tangki pemisah minyak, kolam pengolahan biologis, atau sistem daur ulang limbah organik menjadi pupuk.

Dampak Negatif bagi Lingkungan dan Kesehatan
 
Bagi lingkungan: Penurunan kualitas air dan tanah, bau tidak sedap yang mengganggu, serta potensi pencemaran sumber air minum warga sekitar. Limbah organik yang menumpuk juga memicu pertumbuhan mikroorganisme patogen dan serangga pembawa penyakit.
Bagi kesehatan: Risiko penularan penyakit saluran pencernaan, gangguan kulit, serta gangguan pernapasan akibat pencemaran udara dari pembusukan atau pembakaran limbah yang tidak terkontrol.
 
Di tambahkanya  kata Mamay kusmayadi ( LSM  NUANSA) Langkah Perbaikan yang Diperlukan
 Pengelolaan limbah SPPG perlu ditingkatkan menjadi sistem yang terpadu dan berkelanjutan, antara lain:
 
Menyusun panduan teknis pengelolaan limbah yang baku dan wajib diterapkan di seluruh unit pelaksana.
Menyediakan fasilitas pengolahan limbah yang memadai, mulai dari pemisahan sumber, pengolahan limbah cair, hingga pemanfaatan kembali limbah padat organik.
Melakukan pengawasan rutin dan pelatihan bagi petugas pengelola makanan agar memahami prosedur penanganan limbah yang aman dan benar.
Menyelaraskan pelaksanaan dengan kebijakan lingkungan hidup nasional dan peraturan daerah setempat  pungkasnya. 

(OKI HAIDARSAH / MAMAY KUSMAYADI Sekretaris LSM NUANSA)


Previous Post Next Post

Contact Form