Oleh: H Lukman Khakim
Ketua Umum DPP Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah
Saya mengenal H. Gudfan Arif Ghofur, yang lebih akrab dipanggil Gus Gudfan, bukan hanya ketika berada di ruang-ruang resmi organisasi. Saya mengenalnya dalam pergaulan sehari-hari, dalam perjalanan, dalam pertemuan dengan para kiai, serta dalam berbagai percakapan mengenai pesantren, Nahdlatul Ulama, umat, dan masa depan ekonomi warga nahdliyin.
Karena kedekatan itulah, saya melihat ada beberapa sisi Gus Gudfan yang mungkin belum sepenuhnya diketahui masyarakat luas. Banyak orang mengenalnya sebagai Bendahara Umum PBNU, putra KH Abdul Ghofur dari Pondok Pesantren Sunan Drajat, atau sebagai pengusaha. Namun, di balik semua identitas itu, terdapat pribadi yang luwes, telaten membangun hubungan, dan terbiasa mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang.
Gus Gudfan adalah putra kiai yang lahir, tumbuh, dan dibesarkan dalam tradisi pesantren. Karena itu, pesantren bukan sekadar jaringan organisasi baginya, melainkan rumah kebudayaan dan sumber nilai yang membentuk cara berpikir serta sikap hidupnya.
Hal ini sangat penting karena NU memiliki ribuan pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. Pesantren-pesantren tersebut bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga benteng tradisi, pusat pemberdayaan masyarakat, dan penjaga kehidupan sosial warga nahdliyin. Seorang pemimpin NU harus memahami denyut kehidupan pesantren, bukan sekadar mengenalnya melalui laporan dan angka-angka.
NU juga memiliki ribuan madrasah diniyah yang selama puluhan tahun menjadi tempat anak-anak belajar Al-Qur’an, fikih, akhlak, dan dasar-dasar keislaman. Madrasah-madrasah diniyah itu sering tumbuh dengan segala keterbatasan, tetapi terus istiqamah mendidik generasi bangsa.
Dalam pandangan kami di lingkungan Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah, Gus Gudfan selama ini telah menunjukkan perhatian dan kedekatan yang besar kepada madrasah diniyah. Ia tidak hanya hadir sebagai tokoh organisasi, tetapi juga menjadi tempat mengadu, berdiskusi, dan mencari jalan keluar. Karena perhatian dan keberpihakannya itulah, Gus Gudfan layak disebut sebagai bapak bagi madrasah-madrasah diniyah.
Kualitas semacam ini menjadi semakin penting di tengah dinamika yang terjadi di tubuh PBNU. Kepemimpinan NU ke depan memerlukan figur yang tidak hanya memiliki gagasan, tetapi juga sanggup menjadi jembatan.
Dalam pengamatan saya, salah satu kekuatan Gus Gudfan adalah keluwesannya berhubungan dengan para ulama. Ia mengetahui bagaimana menempatkan diri di hadapan kiai. Ia memahami kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan kapan cukup hadir untuk meminta doa serta nasihat.
Hubungannya dengan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, terjalin sangat baik. Demikian pula hubungannya dengan para Wakil Rais Aam, khususnya KH Anwar Iskandar dan KH Afifuddin Muhajir. KH Anwar Iskandar saat ini juga mengemban amanah sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia.
Kedekatan itu bukan hubungan yang baru muncul menjelang momentum organisasi. Gus Gudfan sejak lama terbiasa bersilaturahmi, berkonsultasi, dan mendengarkan pandangan para kiai. Dalam suasana internal PBNU yang terkadang diwarnai perbedaan sikap, ia tetap dapat berhubungan baik dengan banyak pihak.
Saya juga mengetahui bagaimana ia menjaga hubungan dengan para kiai sepuh, termasuk KH Nurul Huda Djazuli dari Ploso dan sejumlah kiai sepuh lainnya. Gus Gudfan tidak datang kepada para kiai hanya ketika membutuhkan dukungan. Silaturahmi telah menjadi kebiasaannya.
Bagi saya, ini penting karena NU bukan sekadar organisasi dengan struktur administratif. NU memiliki sanad, adab, tradisi pesantren, serta hubungan batin antara pengurus dan para ulama.
Gus Gudfan juga dekat dengan kalangan gus dan lora. Ia mampu berkomunikasi dengan generasi penerus pesantren, misalnya dengan Gus Kautsar dan para pengasuh muda lainnya.
Kemampuan bergaul dengan kiai sepuh sekaligus generasi muda merupakan modal penting. Kepemimpinan NU tidak boleh hanya kuat pada satu lapisan. Pemimpin NU harus mampu menghormati otoritas ulama sepuh, sekaligus membuka ruang bagi kreativitas dan energi kader muda.
Dalam banyak kesempatan, saya melihat Gus Gudfan tidak mudah memberi cap kepada orang lain. Ia dapat berkomunikasi dengan siapa pun tanpa harus kehilangan prinsip. Perbedaan pandangan tidak serta-merta diubah menjadi permusuhan. Baginya, silaturahmi harus tetap berjalan karena sering kali jalan keluar dari persoalan organisasi justru ditemukan melalui percakapan yang tenang dan saling menghormati.
Jaringan Luas Tanpa Meninggalkan Pesantren
Gus Gudfan dibesarkan di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, sebagai putra KH Abdul Ghofur. Ia pernah menempuh pendidikan aliyah di Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, dan kemudian menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Darul Ulum Jombang. Jejak pendidikannya memperlihatkan bahwa dunia pesantren merupakan bagian penting dari pembentukan dirinya.
Sebagai putra kiai, Gus Gudfan memahami bahwa pesantren tidak dapat dipandang hanya sebagai lembaga pendidikan. Pesantren adalah tempat berlangsungnya proses kaderisasi ulama, penjagaan tradisi keilmuan, pembentukan akhlak, dan pemberdayaan masyarakat.
Demikian pula madrasah diniyah. Di balik bangunan-bangunannya yang terkadang sederhana, terdapat para ustaz dan ustazah yang mengabdikan hidup untuk mendidik anak-anak tanpa banyak menuntut penghargaan. Gus Gudfan memahami denyut pengabdian tersebut. Itu sebabnya kedekatannya dengan madrasah diniyah bukan bersifat seremonial, melainkan lahir dari kesamaan akar perjuangan.
Namun, pergaulan Gus Gudfan tidak berhenti di lingkungan pesantren dan NU. Ia mampu berkomunikasi dengan beragam elite nasional, kalangan pemerintahan, profesional, pengusaha, serta tokoh dari berbagai organisasi kemasyarakatan. Hubungannya dengan tokoh-tokoh di luar NU juga terpelihara dengan baik.
Di sinilah saya melihat kekhasan Gus Gudfan. Ia dapat berbicara dengan bahasa pesantren ketika berada di hadapan para kiai. Ia juga dapat berbicara dengan bahasa manajemen dan investasi ketika berhadapan dengan kalangan usaha. Ketika bertemu pejabat negara, ia memahami tata hubungan kelembagaan. Namun, ketika kembali ke pesantren, ia tetap bisa duduk sederhana, mendengarkan dawuh kiai, dan bergaul dengan para santri.
Kemampuan bergerak di banyak ruang tersebut bukanlah hal kecil. NU adalah organisasi besar yang berhubungan dengan hampir seluruh lapisan kehidupan bangsa. Ketua umum PBNU harus mampu berkomunikasi dengan pesantren, madrasah diniyah, pemerintah, masyarakat sipil, dunia usaha, perguruan tinggi, serta kelompok-kelompok di luar NU.
Keterbukaan hubungan itu tidak berarti menjadikan NU bergantung kepada elite. Sebaliknya, jaringan tersebut harus dikelola untuk memperkuat posisi NU agar mampu berdiri tegak, mandiri, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi jamaah.
Dari Pengusaha Menuju Kemandirian Jam’iyah
Selain sebagai santri dan pengurus NU, Gus Gudfan memiliki pengalaman panjang dalam dunia usaha. Sejak 2003, ia mengembangkan kegiatan bisnis di sejumlah bidang, termasuk minyak dan gas, teknologi informasi, petrokimia, serta pertambangan. Pengalaman itu membuatnya terbiasa mengelola sumber daya, membangun jaringan, menyusun perencanaan, dan menghadapi risiko usaha.
Di PBNU, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara Umum. Pada 2024, Gus Gudfan juga ditunjuk sebagai penanggung jawab persiapan pengelolaan usaha pertambangan NU. Amanah tersebut menunjukkan adanya kepercayaan organisasi terhadap kemampuan manajerial dan jaringan usahanya.
Tentu, pengalaman bisnis dan pengelolaan pertambangan tidak boleh hanya disebut sebagai kebanggaan pribadi. Amanah itu harus diuji dengan keterbukaan, kepatuhan hukum, keberpihakan terhadap masyarakat, serta tanggung jawab terhadap lingkungan. Kemandirian ekonomi NU tidak boleh dibangun dengan mengorbankan alam, masyarakat sekitar, ataupun kepercayaan jamaah.
Namun, kita juga tidak boleh terus-menerus memandang kegiatan ekonomi sebagai sesuatu yang berada di luar tugas keagamaan. Kemiskinan, ketimpangan, keterbatasan akses pendidikan, rendahnya kesejahteraan guru madrasah diniyah, dan lemahnya ekonomi pesantren merupakan persoalan nyata umat. Dakwah akan semakin kuat ketika ditopang oleh kemampuan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.
NU memiliki jutaan jamaah, ribuan pesantren, ribuan madrasah diniyah, lembaga pendidikan, rumah sakit, perguruan tinggi, koperasi, lahan, serta berbagai potensi usaha. Persoalannya bukan ketiadaan modal sosial. Persoalannya adalah belum terhubungnya berbagai potensi tersebut dalam satu ekosistem ekonomi yang tertata.
Di sinilah pengalaman Gus Gudfan dapat menjadi kekuatan.
Saya membayangkan NU ke depan memiliki dana abadi yang dikelola secara profesional dan transparan. Hasilnya dapat digunakan untuk memberikan beasiswa kepada kader, memperkuat pesantren kecil, meningkatkan kesejahteraan guru ngaji dan guru madrasah diniyah, serta membiayai program-program strategis di wilayah dan cabang.
NU juga perlu membangun jaringan ekonomi yang menghubungkan produk pesantren dengan pasar nasional. Banyak pesantren telah memproduksi makanan, pakaian, hasil pertanian, kerajinan, dan berbagai kebutuhan masyarakat. Akan tetapi, produksinya sering tidak didukung oleh akses permodalan, teknologi, distribusi, dan pemasaran.
Madrasah diniyah juga harus menjadi bagian dari agenda besar kemandirian NU. Ribuan madrasah diniyah tidak boleh terus dibiarkan berjuang sendiri dengan ruang kelas seadanya dan kesejahteraan guru yang terbatas. Penguatan ekonomi NU harus memberikan dampak langsung bagi keberlanjutan madrasah diniyah dan para pendidik yang selama ini menjaga fondasi keagamaan anak-anak nahdliyin.
Kemandirian ekonomi berarti membantu pesantren, madrasah diniyah, dan warga NU naik kelas. Kemandirian bukan sekadar membesarkan usaha milik PBNU di Jakarta, melainkan menggerakkan ekonomi dari bawah: dari pesantren, koperasi, majelis taklim, madrasah, ranting, dan keluarga-keluarga nahdliyin.
PBNU juga perlu memiliki tata kelola aset dan keuangan yang semakin terbuka. Setiap usaha yang membawa nama NU harus dapat dipertanggungjawabkan. Harus ada pemisahan yang tegas antara kepentingan organisasi dan kepentingan pribadi. Audit, keterbukaan laporan, pengendalian konflik kepentingan, dan kejelasan pemanfaatan keuntungan harus menjadi bagian dari budaya baru jam’iyah.
Gus Gudfan, dengan pengalamannya sebagai bendahara dan pengusaha, memiliki kesempatan untuk menawarkan model tersebut: ekonomi yang dikelola secara profesional, tetapi manfaatnya kembali kepada jamaah, pesantren, madrasah diniyah, dan seluruh perangkat organisasi hingga tingkat paling bawah.
Pemimpin yang Menyambungkan, Bukan Memisahkan
NU ke depan tidak hanya memerlukan pemimpin yang pandai berbicara. NU membutuhkan pemimpin yang mampu merawat hubungan, menyatukan kembali energi yang tercecer, menghormati Syuriyah, menggerakkan Tanfidziyah, serta menerjemahkan dawuh para ulama menjadi program nyata.
Dari kedekatan saya dengannya, Gus Gudfan bukan pribadi yang gemar membangun panggung untuk dirinya sendiri. Ia lebih sering bekerja melalui komunikasi personal, menyambungkan pihak-pihak yang belum bertemu, atau membantu menyelesaikan kebutuhan tanpa banyak publikasi.
Tentu tidak ada manusia yang sempurna. Setiap calon pemimpin harus terbuka terhadap kritik dan diuji gagasannya. Kedekatan dengan kiai tidak boleh hanya menjadi legitimasi simbolik. Jaringan bisnis tidak boleh berubah menjadi dominasi kepentingan. Hubungan dengan elite negara juga tidak boleh membuat NU kehilangan kemandiriannya.
Namun, dengan seluruh pengalaman, jaringan, serta kemampuannya menjalin hubungan, saya melihat Gus Gudfan memiliki modal penting untuk ikut menawarkan arah baru bagi PBNU.
Arah tersebut adalah NU yang kembali teduh setelah melewati perbedaan; NU yang menempatkan ulama sebagai pembimbing utama; NU yang menguatkan ribuan pesantren dan madrasah diniyah; NU yang memberikan ruang kepada generasi mudanya; serta NU yang mampu berdiri mandiri secara ekonomi.
Pada akhirnya, kemandirian ekonomi bukanlah tujuan terakhir. Ia hanyalah alat agar NU semakin leluasa berkhidmah. Ketika organisasi memiliki sumber daya sendiri, NU dapat lebih berani membela yang lemah, membantu yang miskin, mencerdaskan anak-anak jamaah, memperkuat pesantren, serta menyejahterakan guru ngaji dan guru madrasah diniyah tanpa terus menunggu bantuan pihak lain.
Itulah NU yang kita harapkan: sanadnya terjaga, jam’iyahnya tertata, pesantren dan madrasah diniyahnya kuat, ekonominya mandiri, serta manfaatnya dirasakan oleh seluruh jamaah.
Dan untuk membawa cita-cita tersebut, menurut saya, Gus Gudfan adalah salah satu figur yang layak dipertimbangkan secara sungguh-sungguh.
Redaksi
Tags
umum
